Minggu, 29 Oktober 2017

An Untitled Writing

I have a lot of questions in my life which hard to be responsed and descripted. Tentang mengapa aku bisa berada di sini, misalnya. Atau ketika aku sudah berusaha sekuat tenaga mendapatkan sesuatu, dan ternyata orang lain lah yang malah mendapatkannya, lantas hal itu makes me envy as hell karena aku fikir she (or he maybe) wasn’t on position I have been through, she have never felt how heavy my struggle are, betapa rigorous-nya aku mendapatkan hal itu. Okay, well those sentence seems so arrogant, don’t them? But seriously, sometimes if I remembered the miserable fate, I soon get sad so bad, ugh. Nevertheless, as times goes by I have learned so much lessons from the hurt thing. Ada hal yang membuatku selalu bangkit ketika apa yang aku harapkan tidak sesuai ekspektasi dan perjuangnnya. Do you know what is? Yay, Allah! He is always the reason I stand then survive.
A day ago, I received a text from whatsapp on group (so many groups I join makes me forget what the name’s group is hahaa) that awares me about a destiny, tentang takdir, ketentuan Allah, atau yang dalam istilah tasawuf konsepnya Al Bustami adalah Fana’ul Iradah, menyerahkan apapun pada sang penentu segala. Demikian I depict the text. Deep banget, indeed. Pesan whatsapp yang entah dari siapa itu berisi sebuah kisah, tentang seorang raja dan pengawalnya. Si pengawal ini diceritakan sebagai orang yang sangat menggantungkan segalanya pada Allah, he said to the king decisively “Wahai Raja, Allah adalah Maha Sempurna, perbuatan-nya tidak pernah salah”. Once upon a time, they went to the jungle to hunt, then accidently the moment happened, the king was attacked by a tiger which caused his little finger broke. Sang raja marah besar, he yelled then exclaimed to his bodyguard, “Kamu bilang Allah itu sempurna dalam tindakannya. Lihat sekarang, aku kehilangan jari kelingking!”. As a response to the king’s whim, wisely he answered, “Iya, memang benar Tuan. Anda berkata seperti itu karena belum tahu maksud Tuhan menakdirkan demikian”. Akhirnya mereka pun pulang. Sesampainya di istana, sang Raja tidak mampu menahan amarahnya atas kejadian tadi, kemudian dengan garang ia memanggil pengawalnya yang lain untuk menjebloskan sang pengawal bijak tersebut ke dalam penjara. Meski heran dan merasa tak bersalah atas hukuman tersebut, namun pengawal bijak itu tetap menurut, dan berkata dalam hati, Allah Maha Sempurna dan perbuatan-Nya tak pernah salah”. Usai menjebloskannya ke dalam penjara, the king intented to go the jungle, he wanted to hunt again. But poorly, there was terrible happening, ketika sedang berjalan-jalan di hutan, ia diintai oleh orang asing yang pada akhirnya dengan brutal menculik sang raja untuk dibawa pada gerombolannya dan dibunuh untuk dipersembahkan pada dewa mereka. Dengan rasa takut yang mencapai klimaksnya, sang raja hanya bisa berdoa dan pasrah until the miracle happened. Suku tersebut sontak membatalkan rencana jahat mereka karena melihat amggota badan sang raja yang tak lengkap: tidak ada jari kelingking di tangannya. Dia tidak bisa dipersembahkan kepada dewa. Dengan kecewa, finally mereka melepaskan sang raja, dengan gembira, raja pun kembali ke istananya dan menyuruh pengawalnya utmuk membebaskan sang pengawal yang bijak untuk menceritakan the accident was happened to him. Sang raja dengan menggebu-gebu pada akhirnya percaya pada perkataan sang pengwal bijak tersebut then he realized there was something which he felt so unfair happened to his wise bodyguard. “Kalau Allah memang tak pernah salah dalam perbuatan-Nya karena kemahasempurnaan-Nya, lalu kenapa Dia membiarkanmu aku jebloskan ke penjara?” the king asked wonderly, then the bodyguard response him wisely, “Karena jika Dia tidak menjadikanku mendekam di penjara sehingga aku ikut denganmu untuk kembali berburu di hutan, maka akulah yang akan dijadikan tumbal dan dipersembahkan pada dewa mereka disebabkan anggota tubuhku yang masih sempurna”.
Hey, what a deep story is! Isn’t it gengs?

            Nah, from the story above I learned that what I hate to be happen doesn’t mean bad to me because about destiny just god knows. Maka aku yakin, dengan tidak mendapatkan apa yang telah aku perjuangkan dan aku harapkan, it will be the way Allah loves me, treat me and guide me into a right path. I’m really sure that he has a better planner than I have thought. He certainly draw a beautiful paint on my life canvas, he have arranged and written down a stunning story of my life. Bisa saja, jika aku mendapatkannya, justru aku malah akan lebih buruk lantas terpuruk atau terjadi sesuatu di luar ekspektasi yang buruk sekali, maka dari itu, Allah hindarkan aku dari terkabulnya harapan itu. Allah maha sempurna dan perbuatan-Nya tak pernah salah!

Minggu, 15 Oktober 2017

Generasi Millenial dalam Dunia Digital

Di era digital sekarang ini, generasi millennial makin percaya diri menunjukkan eksistensinya di panggung hiburan, apalagi media sosial seperti instagram telah menjadi magnet banyak orang dimana mereka dapat mengakses ratusan gambar dan video yang bermacam-macam, contohnya komedi, horor, berita, meme, hingga yang bersifat romantis, sehingga banyak orang yang memanfaatkan instagram sebagai media promosi, jualan, atau sekedar sarana penyalur bakat dengan menampilkan skill-nya dalam bernyanyi, menari, atau bermain alat musik. Selain Instagram, Youtube memiliki peran yang sangat mendominasi, bahkan bisa dikatakan menyaingi televisi yang makin hari acaranya dinilai tidak bermutu, pasaran, hingga terlalu lebay. Sampai saat ini, muncullah jutaan youtuber, mereka berlomba-lomba tampil di panggung hiburan yang unlimited ini. Berbekal passion masing-masing, mereka berhasil meraup keuntungan yang tidak sedikit, sebut saja Young Lex dengan tampilannya yang cukup kontroversial, memiliki penghasilan rata-rata 32.500.000 per bulan. Sebuah angka yang sangat fantastis mengingat kerjaan para youtuber tersebut hanya soal kuota internet, kamera, dan laptop/komputer. Meski hal ini tampak sederhana, sebenarnya menjadi youtuber merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena dibutuhkan kreativitas tingkat tinggi demi menciptakan video yang menarik, kekinian, dan tidak membosankan sehingga bisa menarik ratusan ribu hingga jutaan penonton dan subscriber.
Bagi para netter, atau orang yang sering berselancar di dunia maya, terutama untuk mengakses konten-konten hiburan yang disajikan oleh remaja zaman now, pasti mengenal siapa itu Reza Oktavian, Agung Hapsah, dan Chandra Liouw. Saya sebagai generasi anak tahun reformasi, baru-baru ini sedang asyik-asyiknya mencari informasi tentang mereka, dengan menonton video youtubenya dan melihat-lihat feed instagram mereka. Seketika, timbul berbagai impression menyaksikan konten-konten mereka di youtube maupun instagram. Takjub? ttentu saja, itu di antaranya. Bagaimana remaja seumuran mereka sudah dapat menghasilkan karya-karya digital yang dan sangat menarik. Padahal, kalau dilihat dari topik yang mereka angkat dalam video-video youtube mereka, I thought itu bukan sesuatu yang penting untuk dibahas. Misalkan tentang aktivitas pacarannya Reza Oktavian dan Wendy. Hey, what will we get from this video? Tapi, berbekal kreativitas mereka yang tanpa batas, jadilah video-video mereka yang dari segi temanya tampak sangat tidak penting untuk dibahas, menjadi daya tarik yang kuat bagi banyak orang, hal ini terbukti dari follower Instagram Reza yang mencapai satu juta dan jumlah penonton videonya yang mampu menembus angka lebih dari setengah juta. Demikian halnya dengan Agung Hapsah, yang sempat merebut perhatian saya bulan-bulan lalu, wkwk. Sedikit berbeda dengan Reza, isi videonya, in my view  lebih berfaedah, seperti membuat film dan  membahas topik yang sedang hangat-hangatnya meski sisanya, jika ia sudah mengalami mental block dan sedang sibuk-sibuknya sekolah, maka ia akan mem-post video-video yang bisa menjawab segala rasa penasaran orang tentang dirinya: Q&A (question and ask), berbagai pertanyaan tentang dirinya yang dilayangkan melalui instagram akan ia jawab, seperti how he could speak English fluently? Mengingat fasihnya ia dalam berbahsa Inggris, atau hal-hal sepele mengenai aktivitasnya sehari-hari. Sedangkan Chandra Liow, sebagaimana kedua temannya ini, telah tampil lebih dulu sebelum mereka, dengan genre humor yang ia bawa, bersama teman-temannya, sebut saja Devina Aurel, dan beberapa konten video dengan genre yang berbeda, mampu mengantarkannya menjadi peraih nominasi di tiga kategori (Best Youtube Channel, best Youtube Personality, dan kategori Lifetyle) pada penghargaan Influence Asia 2015, sebuah penghargaan media sosial terbesar di Singapura, selain itu saluran Youtube-nya telah menerima penghargaan Good Play Button dari Youtube sendiri karena memiliki lebih dari satu juta pelanggan video.

Selain tiga aktor youtube di atas, tentu masih sangat banyak para youtuber Indonesia that good in showing their passion into videos yang melejitkan popularitas mereka. Bukan hanya soal komedi seperti yang diusung Chandra Liow atau giving information by interesting display dan film making yang dibawakan oleh Agung Hapsah, tetapi video-video tentang review kosmetik dan alat kecantikan atau yang lebih dikelan sebagai beauty vlogging juga makin banyak digandrungi, sebut saja Cindercella, Nanda Arsynta, Janine Intansari, dan Dewi Ayu yang banyak berkiprah dalam bidang ini, atau passion serupa yang dibubuhi dengan parody dan komedi seperti yang ditampilkan oleh Rachel Goddard. Masih sangat banyak hal-hal yang diangkat menjadi topik atau tema dalam menciptakan video, berikut genre-nya. Tinggal kita yang baru mampu sebagai penontonnya yang menyeleksi mana tontonan yang baik dan bermanfaat untuk diakses, dan tergantung tujuan dalam menonton, apakah hanya sekedar sebagai hiburan ataukah hingga berorientasi pada pendidikan. Selamat berselancar di dunia digital!